Eks Ketua DEMA Bicara

Sekitar 3 hari lebaran atau 15 Oktober yang lalu serombongan alumni ITB yang masih segar, mewakili sekumpulan alumni ITB yang resah terhadap aktivitas IA Alumni ITB selama ini, datang bersilaturahmi ke rumah saya. Kepada saya mereka memperkenalkan diri sebagai mewakili TIM ITB PROGRESIF UNTUK IA ITB. Pada kesempatan itu mereka mengutarakan rencana untuk ikut bersaing dalan pemilihan Ketua IA ITB yang akan dilaksanakan November mendatang dan menyampaikan proposal yang akan mereka kerjakan seandainya calon mereka terpilih nanti.

Sejenak saya terdiam, saya pandangi muka mereka satu persatu. Saya tanyakan, apakah ini serius atau sekedar untuk memperkuat daya tawar dalam penyusunan pengurus IA ITB baru nanti.

Setelah mendapat jawaban bahwa mereka serius, diantaranya dengan memperlihatkan upaya mereka mengumpulkan biaya sebesar Rp.130jt ( yang baru saya ketahui merupakan persyaratan pencalonan), saya sampaikan apresiasi dan salut saya atas “keberanian” mereka bersaing dengan tingkatan menteri dan CEO dari perusahaan multinasional & BUMN. Kepada mereka saya saya sampaikan dukungan. Kenapa?

Kepada mereka saya katakan, kalau keberhasilan dari Ketua IA Alumni tidak diukur dari kemampuannya mengumpulkan dana abadi untuk disampaikan ke ITB maupun untuk “memfasilitasi” kepentingan ITB ke Pemerintah maupun Korporat, jabatan struktural dari calon tidak relevan untuk dijadikan acuan penilaian. Lebih jauh saya ungkapkan penilaian saya, seandainya seorang menteri yang terpilih nanti, kalaupun kinerja IA meningkat, secara quantitative tidak akan lebih dari 10 % dari kepengurusan yang lalu2. Begitu pula, saya yakin seandainya ZAID dari Tim ITB Progresif untuk IA ITB terpilih, seburuk buruknya kinerjanya tidak akan lebih dari minus 10% kepengurusan yang lalu2.

Namun begitu walaupun antara tim dan saya mempunyai pandangan yang sama tentang peran dan kegiatan yang prioritas untuk dilakukan IA ITB, kepada Sdr. Hokky S dan teman2 saya meminta waktu untuk mempelajari arah dan sasaran yang hendak dicapai serta strategi untuk mencapainya yang tertuang didalam PROPOSAL KERJA BARENG.

Setelah membaca Why, What dan How dari Tim ITB Progresif untuk IA ITB, saya melihat warna baru IA yang hendak dicapai, yaitu menjadikan IA ITB sebagai penerus KM ITB dengan kadar intelektual yang lebih tinggi.

Karena itulah pernyataan dukungan ini saya buat untuk menggugah alumni ITB yang rindu akan peran IA ITB untuk menjadi patner KM ITB sebagai pressure group, memberikan dukungan suara kepada sdr. Zaid Nst dari Tim ITB Progresif untuk IA ITB dalam pemilihan ketua IA ITB.

Muslim Tampubolon
Alumni ITB Tek Sipil 1975
Mantan Ketua DEMA ITB

ok men! bersih saja tidak

ok men!
bersih saja tidak cukup!
apakah dia seorang yang berkomitmen pada cita-cita orang byk? jadi akan sangat lucu memilih calon yang terkesan konsen pada urusan pribadinya dan cuma mau berjuang sekali-sekali saja..

potensi IA besar saudara-saudara, coba teliti perjalanan hidup dan apa saja yang telah dilakukan oleh para calon IA