KMSR ITB yang dibekukan oleh rektoratnya sendiri
Bravo, Bravo, sekali lagi Bravo untuk kaum-kaum humanis yang berencana
membangun kemanusiaannya, di atas pemberangusan Demokrasi dan Hak-Hak
Asasi Manusia !!!
Merdeka !!!
Saat ini, cuma pekik salam itu yang bisa saya sampaikan, Walau kata
merdeka itu, kini hanyalah sebatas kata tak bermakna bagi mayoritas
mahasiswa, sebab maknanya sudah dikebiri oleh birokrasi kampus
(Rektorat) atas nama kebijakan dan stabilitas. Mungkin teman-teman
bingung serta terhenyak dengan kesinisan saya ini, tapi tak apa. Akan
saya coba jelaskan semuanya menurut pandanagan saya. Sampai teman-teman
sekalian pun mau turut mengulurkan tangan, menjadikan kemerdekaan ini
milik semua (mahasiswa maupun birokrasi kampus ini).
Sejak tahun 2000, telah terjadi pemprivatisasian 4 perguruan tinggi
negeri (ITB, IPB, UGM, dan UI). Pemprivatisasian adalah nama lain dari
pengkapitalisasian dunia pendidikan. Privatisasi ini jelas kedok
pemerintah untuk melepaskan tanggungjawabnya sebagai penjamin pendidikan
bagi semua anak negerinya. Dan selamat datang tuan-tuan pemodal yang mau
masuk !!!, silahkan masuk, silahkan masuk, karena kami sudah membuat
seperangkat kebijakan yang akan membungkam setiap ancaman dari mahasiswa
(batas waktu studi, pembatasan kegiatan kemahasiswaan, sanksi-sanksi
akademik, dan lain-lain, dan lain). Aktivitas mahasiswa hanyalah
aktivitas kontra akumulasi modal, kontra akumulasi kekayaan. Kerja-kerja
kemahasiswaan (sosial, kreativitas, pengabdian masyarakat) hanya akan
menghabiskan akumulasi dana perusahaan pendidikan ITB saja.
Dan malapetaka itu terjadilah.
Sudah hampir seminggu ini saya tunggu surat sanksi yang akan disematkan
pada keluargaku, keluargamu juga, keluarga kita semua. Sanksi yang
berupa pembekuan salah satu organisasi kemahasiswaan di ITB, KMSR
(Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) dan sanksi akademik (pemotongan jumlah
SKS dari yang seharusnya) pada President KMSR, Menteri Kaderisasi KMSR,
serta saudara baruku, Ketua Angkatan 2006. Aku takzimkan hormat
sedalam-dalamnya pada kalian. Sebab kalian dengan ksatria, berani
mengambil resiko untuk berhadapan dengan belenggu sangsi akademik. Untuk
tetap terus menjalankan salah satu hak aktivitas kemahasiswaan,
kaderisasi.
Peristiwa getir ini bermula dari sebuah surat keputusan (yang dibuat
secara sepihak oleh rektorat). Yang berisi larangan terhadap angkatan
2006 untuk mengikuti segala bentuk kegiatan yang bernuansa orientasi
studi kaderisasi atau yang sejenisnya yang dilaksanakan organisasi
kemahasiswaan ITB. (baca surat edaran nomor: 1188/k01.4/KM/2007, yang
ditandatangani oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni /
Kepala Biro Kemahasiswaan, Dr.Ir.Widyo Nugroho Sulasdi, pada tanggal 18
april 2007). Pembenaran mereka adalah kegiatan OS, alias kaderisasi,
alias lain-lainya, mengandung unsur kekerasan fisik maupun mental yang
melanggar Hak Asasi Manusia.(baca harian Republika, Sabtu, 14 Juli 2007)
Sungguh cita-cita mulia tak terkira !!!, benarkah ??!!? Hey, para
pemberangus kemahasiswaan kampus! Disini aku berdiri di atas sepah-sepah
kebijakan represifmu, aku bertanya, dan jangan kau mengelak sebab bumi
memang tak sebatas pandang // dan udara luas menunggu // namun kalian
takkan bisa menyingkir // ke manapun melangkah // kalian pijak airmata
kami // ke manapun terbang // kalian kan hinggap di air mata kami // ke
manapun berlayar // kalian arungi airmata kami // kalian sudah terkepung
// takkan bisa mengelak // takkan bisa ke mana pergi // menyerahlah pada
kedalaman air mata[1] <#_ftn1> . Adakah kami melakukan kesalahan ketika
kami harus menyematkan Bintang Merah kepada adik kami? Bintang yang
menjadi pengikat kami, sebagai satu himpunan, sebagai satu keluarga.
Kini surat sudah jatuh ketangan keluarga besar KMSR (KEPUTUSAN REKTOR
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, NOMOR: 018/SK/K01.04/KM/2007), adakah kita
akan menyerah? Akankah kita akan tawar hati? Jawabannya tentu BUKAN !!!,
kawan.
Kalau kita diberi kesempatan untuk berbicara pada mereka (yang selalu
sibuk untuk mendengar suara mahasiswanya) secara lebih adil dalam proses
pendakwaan itu. Kita pasti, pasti, pasti, pasti dan akan pasti berkata
bahwa kaderisasi bukan kekerasan. Dan begitupun sebaliknya kekerasan pun
bukanlah kaderisasi. Ya! saya yakin akan kata-kata yang sederhana ini.
Seharusnya yang mereka lakukan adalah mengoptimalkan usaha untuk
menghapus tradisi kekerasannya dan bukan tradisi kaderisasinya. Sebab
kaderisasi adalah tulang punggung dari sebuah organisasi kemahasiswaan.
Kecuali kalau mereka memang ingin memberangus kemahasiswaan dengan
melumpuhkan organisasi kemahasiswaan, lewat meremukkan tulang
punggungnya. Semoga Tuhan membakar tangan para pembunuh kemanusiaan dan
lidah para pembual kedamaian palsu.
Analisaku ini bukan hisapan jempol belaka. Jelas dimulai dari pelarangan
kaderisasi, hingga hukumannya yang berupa pembekuan organisasi
kemahasiswaan, yang dibangun di alas demokrasi, serta sanksi akademik
bagi pimpinan mahasiswa. Jelas !!! adalah bentuk-bentuk nyata
bergentayangannya kembali, momok Normalisasi Kehidupan Kampus di kampus
ITB. Apa kita masih, masih, masih, masih, dan terus masih
mengingkarinya? Dan sampai kapan kita akan terus, terus, terus dan terus
mengingkarinya? ..........Emancipate yourselves from mental
slavery, None but ourselves can free our mind.[2] <#_ftn2>
Sebuah masa ketika kita berdiri di persimpangan jalan dan harus
menentukan jalan apa yang harus dipilih.
saat ini tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh birokrasi ITB,
sudah mencapai titik akumulasinya. sehingga perdebatan sekarang yang
harus kita bangun adalah bagaimana kita merumuskan strategi dan taktik
yang tepat sehingga, benih-benih perjuangan yang kita tanam dengan
mencucurkan air mata, di kemudian hari bisa berubah menjadi buah ranum
kedaulatan mahasiswa yang kita petik dengan sorak-sorai![3] <#_ftn3>
Dengan kondisi seperti ini kebutuhan apa yang harus dipenuhi
mahasiswa-mahasiswa ITB untuk membangun kembali kehidupan kampus yang
demokratis dan berkedaulatan bagi mahasiswanya?
saya sebagai salah satu anggota KMSR ITB, dengan tegas mengutuk tindakan
pemberangusan organisasi kemahasiswaan, atas nama kebijakan kampus yang
dibuat sepihak !!! melalui surat inipun saya serukan perlawanan
terhadap segala bentuk sistem kebijakan kampus yang anti terhadap
demokrasi dan kemanusiaan !!!
Tabik !!!
Bob/gerigi rakyat
[1] <#_ftnref1> Tanah air mata, Sutardji Calzoum Bachri, 1991
[2] <#_ftnref2> Redemption song, Bob Marley
[3] <#_ftnref3> Forum Rileks.comlabs.itb.ac.id, topik KMSR Akan
Dibekukan?, haaaaaaaaaaaaaa?, Pancang Nusantara alias Bob, 2007

Kmu bikin saja petisi dan
Kmu bikin saja petisi dan kumpulkan tanda tangan dukungan, publikasi juga di media yang sama komentar untuk counter pernyataan rektor.
Dan yang juga penting: klo sama-sama ga mau adanya kekerasan tawarkan ke rektorat aja proposal kaderisasi non-kekerasan KMSR secara detail. Klo perlu dengan penawaran pengawasan-tanpa-intervensi rektorat, kecuali kekerasan mulai tercium terjadi.
Siapa tau didengar, yah siapa tau....:)
Sebenarnya orientasi
Sebenarnya orientasi mahasiswa itu apabila dilaksanakan dengan digaris bawahi kekeluargaan dan rasa humor yang tinggi, sangatlah memberikan kesan indah terutama disaat kita sudah lulus.
Jaman aku dulu istilahnya Mapram, dan kita selalu menyanyikan lagu lagu Hymne kampus yang ternyata sangat membuat terharu ketika lagu lagu itu diperdengarkan disaat kita wisuda. Betapa indahnya saat saat kita mengenang ketika di"siksa" oleh para raka & rakanita dulu.
Pengalaman & cerita indah ini terus berlanjut hingga kini ketika kita berkumpul bersama rekan "senasib", sesudah berpuluh tahun meninggalkan Kampus tercinta ini.
Jadi memang sangat disayangkan jika para yunior sekarang tidak diberi kenangan indah untuk diingat disaat mereka sudah berkelana diluar kampus sebagai alumni.
Dan masa ini tidak akan dialami lagi....